Garbage Insurance Clinic (Sehat dengan Sampah)

Jakarta, 5 Juni 2005, sebuah kisah nyata menampar negeri ini, seorang anak bernama Khaerunissa (3 tahun) tidak bisa pergi berobat dan menghembuskan nafas terakhir di gerobak sampah ayahnya (Supriyono, pemulung), karena penghasilan ayahnya yang hanya 10.000. “Khaerunissa” adalah satu di antara “Khaerunisa-khaerunissa” lain yang tidak sempat memaksa dunia memperhatikannya. Oleh karena itu, kami mengajak kader posyandu, PKK, pemulung, dan masyarakat untuk mengembangkan Klinik Asuransi Sampah(KAS) untuk menghancurkan barrier (penghalang) antara akses kesehatan dengan masyarakat. Klinik Asuransi Sampah adalah sistem asuransi kesehatan mikro berbasis kerakyatan dengan semangat gotong royong melalui pembayaran premi dengan sampah sebagai sumber pendanaan utama pelayanan kesehatan masyarakat.

Warga cukup menyerahkan sampahnya kepada Klinik Asuransi Sampah sebesar 10.000 rupiah setiap bulan dan bisa menikmati berbagai fasilitas kesehatan. Sampah yang dikumpulkan warga diolah menjadi uang sebagai “Dana Sehat” dengan Metode Takakura dan daur ulang. Dana Sehat tersebut digunakan untuk pelayanan kesehatan secara holistik, yaitu promotif (meningkatkan kesehatan), preventif (mencegah sakit), kuratif (mengobati sakit), dan rehabilitatif (rehabilitasi yang sembuh). Sehingga walaupun tidak sakit, masyarakat tidak akan rugi, karena mendapatkan berbagai program peningkatan kesehatan. Dengan sistem ini, kami menghimpun potensi/sumber daya yang ada di dalam masyarakat itu sendiri lalu mengembalikan sebagai akses pelayanan kesehatan holistik serta mampu dalam pengelolaan pembiayaannya. Konsep ini bersifat socio-entrepreneur, menggunakan sampah sebagai sumber pembiayaan, menerapkan sistem pelayanan kesehatan holistik, memberikan akses yang luas karena setiap orang memiliki sampah, dapat dimandirikan, memiliki daya keberlangsungan yang kuat karena mandiri secara pembiayaan. dapat dimodifkasi, dan diduplikasi. Kami telah menerapkan dan menduplikasi pada 5 klinik.

Survey Kesadaran dan Keinginan terhadap Kebijakan Kesehatan: Studi Empiris dengan Referensi Kota Malang

Di Indonesia ada banyak masalah kesehatan, seperti kurangnya sumber daya kesehatan, rendahnya pembiayaan kesehatan, tingginya angka kesakitan dan kematian pada penyakit menular, dan lain-lain.
Masalah ini berkorelasi dengan rendahnya komitmen politik dalam kebijakan kesehatan. Di sisi lain, rendahnya kesadaran tentang besarnya masalah, kurangnya orientasi, rendahnya kompetensi dan kapasitas tenaga kesehatan, upaya-upaya advokasi yang buruk, dan kurangnya partisipasi aktif masyarakat telah memperburuk rendahnya komitmen politik untuk pencegahan kesehatan Indonesia. Penelitian ini merupakan upaya di bidang kesadaran masyarakat terkait kebijakan kesehatan untuk memeriksa tingkat kesadaran tentang kebijakan kesehatan dan mengidentifikasi faktor-faktor penentu kesadaran kebijakan kesehatan dan faktor-faktor yang berbeda yang mempengaruhinya. Penelitian ini dilakukan di Malang, Indonesia, dan 866 kuesioner yang diisi dengan proporsional acak kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan rendahnya tingkat kesadaran dan kemauan untuk kebijakan kesehatan, bahkan orang-orang lebih memilih kebijakan kemacetan lalu lintas daripada kebijakan kesehatan. Kami menemukan bahwa 27,40% dari responden lebih memilih kebijakan kemiskinan, 18,73%, kebijakan pendidikan 15,94% kebijakan macet, 12,49% kebijakan kesehatan, 11,28% kebijakan infrastruktur, 8,85% kebijakan lain, dan kebijakan banjir 5,31%. Secara keseluruhan, tidak ada korelasi karakteristik responden (Gender, umur, kelompok etnis, agama, pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan responden), kesadaran dan keinginan kebijakan kesehatan di kota Malang. Sebaliknya, usia (p < 0,001) dan pendidikan (p < 0,01) memiliki korelasi dengan kesadaran dan keinginan untuk kebijakan kesehatan di daerah diseluruh penduduk responden. Akses radio memiliki kaitan() dengan kesadaran dan kemauan untuk kebijakan kesehatan di Malang(p = 0,012) dan di kecamatan mereka(p = 0,012). Di sisi lain, akses televisi memiliki hubungan dengan kesadaran dan kemauan untuk kebijakan kesehatan di kecamatan mereka dengan p = 0,001. Meningkatkan kesadaran kesehatan di kalangan warga di Kota Malang merupakan tugas yang berat. Kami menyimpulkan bahwa pemahaman yang lebih besar pada setiap aspek karakter dan latar belakang yang penting dalam kesadaran dan keinginan kebijakan kesehatan di Indonesia penting untuk pendekatan sosioteknis dalam meningkatkan kesadaran dan keinginan kebijakan kesehatan di Indonesia.
Gamal Albinsaid pada Planet Inovasi dalam Panggung Pemuda Kebangsaan, Jakarta 23 Maret 2014, Gedung Audio Visual BPPT, Lt. 3, Jl. Thamrin 8, Jakarta Pusat.
Deskripsi di atas terkait dengan dua dari lima Resume Produk yang dikirimkan oleh Gamal Albinsaid kepada Planet Inovasi pada 25 Februari 2014. Tiga produk lainnya adalah: Portable Baby’s Enhancer, Mobile Hospital, dan The Mother Happiness Center. Sumber Klip Video: Indonesia Medika, Gamal Albinsaid, oleh BBC Indonesia.